sorri ya lama bgt ga update ini blog yg gapenting tp dibutuhin...
Kali ini dengan kaos oblong, celana gombrong, kacamata miring, rambut kesetrum, plus jari-jari lemes bin air mata, gue pengen nge-Post ke Blog ini...
" Lebeh ? " ,
Haiah, inikan blog gue, so, suka2 gue dong mo nulis apa diblog ini =,= *bener2 geje*
Nah, uhum-uhum *benerin posisi kacamata*
kali ini gue pengen ngeluarin semua unek2 gue ,
yang mungkin menurut sebagian orang ga penting, tapi menurut gue hal ini sangat berarti dan selalu berbekas dihati gue...
Dari Pada bingung, gue cerita dari awal aja ya...... :'-)
======================================================
Beberapa hari setelah aku ultah , tanpa disangka-sangka, tiga ekor bayi kucing nan mungil sedang menggeliat dibawah meja . Tubuh mereka masih terlihat sangat rapuh, tanpa bulu, tak dapat melihat, dan tertampak jelas seuntai ari masih melekat dipusar pada bagian perut masing-masing mereka. Aku terkejut sekaligus senang mendapati kehadiran tiga nyawa yang baru hadir tersebut. Setelah ku periksa, ternyata itu bayi dari salah satu kucingku ( sebenarnya bukan kucingku, tapi sering main kerumahku ) , Nenek Tua Kasabelangka, begitu kusebut dia. bagaimana tidak, dia sangat tua dan nakal, tapi sifatnya yang penyayang membuatkupun mau dan mau "Welcome" terhadapnya. Namun setelah itu aku berpikir, apakah papa yang pembenci kucing bisa menerima kehadiran mereka? sungguh, aku benar-benar bimbang saat itu. akupun mencoba membujuk papaku dengan sebisaku , bahkan sampai meneteskan air mata. semua kulakukan agar ketiga bayi kucing kecil itu dapat hidup -karena setauku banyak kucing liar jantan disekitar rumah yang suka memakan anak kucing- . Setelah beberapa pertimbangan , papapun setuju, dan akupun senang bukan main mendengarnya. 'Bagaimanapun, ketiga kucing ini harus hidup!', pikirku.
Beberapa haripun berlalu , ketika pulang sekolah, aku tak melihat ketiga bayi mungil itu. Segera kucari, tapi tak jua ketemu. setelah kutanyakan pada kakaku, dia berkata bahwa ketiga bayi kucing itu telah dipindahkan induknya kedalam musholla. segera saja kulari menemui mereka. dan benar saja, tiga sosok bayi kucing yang tetap terlihat rapuh itu sedang menggeliat dilantai. menyadari kehadiranku, mereka bersembunyi dibalik meja kerja mamaku, tentu saja dengan kaki bergetar dan beberapakali kudapati mereka terhuyung dan terjatuh. aku terkikik pelan, betapa bahagianya aku mendapati mereka telah dapat membuka mata dan mulai belajar berjalan. Saat itu kami (aku,kakaku,dan mamaku) memperhatikan tingkah laku mereka yang sedang mengamati dunia "baru" nya, berjalan kesana kemari, terhuyung, tertabrak sesuatu, dan jatuh. Beberapakali kami tertawa menyaksikannya. Sungguh, betapa lucunya ketiga kucing mungil itu.
Tak lama, kudapati Bangka membawa mereka kelantai atas, tepatnya didepan kamarku. aku kaget, kupikir bangka akan membawa mereka pergi dengan kondisi mereka yang rapuh. akhirnya kuputuskan untuk membawa mereka masuk kekamarku dengan sekotak kardus beserta senter penghangat untuk mereka (karena kutahu kamarku berAC). Kakakku sempat memberitahuku bahwa mungkin papa akan tidak setuju. aku mengabaikannya, "bagaimanapun mereka harus tetap hidup sampai besar!", pikirku lagi seperti sebelumnya. dan benar saja, papaku sangat marah dan tidak setuju atas keputusanku. tapi aku terus berusaha membujuk sambil menangis. saat itu aku berjanji bahwa apabila ada kotoran kucing atau apapun aku yang akan bertanggung jawab. dengan marah dan tak ikhlas (Tentu saja aku tahu itu), papakupun berusaha mengijinkanku. aku tersenyum lebar saat itu, yang kupikirkan saat itu adalah mereka bisa hidup.
Yang tak mungkin kulupa, aku selalu menyaksikan betapa lucunya mereka. Beberapa hari pertama, mereka masih diam didalam kardus, palingpun sesekali keluar untuk menyusui. Beberapa minggu kedua, kulihat mereka mulai "menjelajah" dalam kamar. terkadang beberapakali mereka terselip dibawah kasur hingga kami harus tengkurap untuk meraihnya, saat itu kutahu :
* Kucing mungil dengan dominan warna putih dan sedikir warna kuning. buntutnya pendek seperti ibunya. Hidungnya panjang seperti orang arab. Dan keunikannya adalah saat dia tidur, tak ada yg dapat membangunkannya. makadari itu , kuberi dia nama " LAZIPPO " = dari kata Lazy yang berarti pemalas.
* Kucing kedua, berbuntut panjang. warna kuning dan putih seimbang, kupikir. Badannya kurus seperti kucing-kucing liar pada umumnya. Sifat uniknya, dia sangat penakut. melihat cicak atau suara petir saja ia takut. maka kupanggil dia " SCAREPPO " = dari kata Scare yang artinya seram/takut yang seram-seram.
* Kucing ketiga, yang paling kusuka diantara semuanya. Matanya paling bulat dan bening. Badannya Gembul, dan terlucu adalah buntutnya yang melingkar seperti "HACHIKO". Karena keimutannya itu, kupanggil dia "NYIPPO".
Dua bulan ,atau lebih, kupikir. Kubelikan mereka sebuah kandang kucing imut berwarna pink. dan tentu saja kubeli dengan uang tabunganku. pertama mereka sangat tidak suka, namun lama kelamaan merekapun terbiasa. terkadang kudapati mereka sedang tertidur tiban-tibanan untuk mendapatkan kehangatan. Dan terkadang kudapati nyippo beberapa kali buntut melingkarnya terjepit diantara beberapa jeruji besi kandang, aku hanya tertawa saja menyaksikannya. Sungguh, aku sangat menyayangi ketiga kucingku ini.
Beberapa bulanpun berlalu, mereka tumbuh dengan cepat. Dari bayi kucing menjadi anak kucing (dan tentu saja aku yang merawat mereka karena si induk sudah tak peduli). Mereka dapat berlari , meloncat kesana-kemari. Kejar-kejaran , saling gigit bercanda, sungguh kerabat yang sangat harmonis meskipun mereka hanyalah binatang.
Aku juga ingat dimana saat mereka bertiga sakit flu. saat itu kurawat mereka, tiap hari kuberi madu , bahkan sampai kukompres mereka. Ketika itu aku menangis, aku ga mau kejadian Si Kecil kucing kesayanganku yang mati karena penyakit yang sama ini terjadi. Aku bahkan sampai berdoa, "Ya Allah, Bilamana perlu. Biarkanlah aku yang gantikan rasa sakit mereka. Tapi hamba mohon, jangan ambil mereka dari hamba Ya Allah. Jangan. Hamba sangat sayang pada mereka. Hamba rela, jika harus hamba yang sakit", begitulah pintaku sambil menangis setiap aku sedang merawat mereka. Sungguh, aku tak tahu mengapa aku punya rasa sayang pada binatang yang sebesar ini. Akupun tak Paham, tapi aku juga tak bisa memberontak semua asa ini. Tiga-empat hari selanjutnyapun ketiga kucingku sembuh, dan tentu saja aku sakit menggantikan mereka sebagaimana doaku. namun saat itu yang kupikirkan adalah " Ya Allah, Hamba Ikhlas Jika Seperti Ini. Asalkan mereka sembuh, terimakasih Ya Allah", ucapku meneteskan air mata sambil terlentang dikasur dan dengan kondisi badan demam. Bersamaan saat itu, ketiga kucingku menemaniku dengan tertidur pulas mengelilingiku. Sekali lagi, sungguh. aku sangat menyayangi mereka.
Namun ternyata itu semua tak bertahan lama, beberapa bulan selanjutnya. Saat dimana aktifitas sekolahku yang sangat padat. Disamping tugas dan ulangan yang menumpuk serta kegiatan kelompok yang menjadi. Akupun mulai jarang melakukan tanggung jawabku untuk mengurusi kotoran mereka. Saat itu ayahku marah, beberapa kali kudapati dia mengucapkan kata-kata yang sangat menyakitkan hati. kala itu aku hanya menangis dalam diam. Dan kalau sempat, selalu kuusahakan membersihkan kandang setelah pulang sekolah, meskipun masih merasa letih. Bagaimana lagi, Aku SANGAAAT sayang dengan ketiga kucingku yang kurawat sejak bayi hingga berumur lebih dari enam bulan.
Dan hal ini yang sangat menyesakkan dada. Pagi itu, sebelum kuberangkat kesekolah. Aku ditugaskan untuk membersihkan kandang, aku ingat banget hari itu hari sabtu. Ketika aku membersihkan kandang, kedua kucingku "Lazippo dan Scareppo" menggeliat mengelus-elus kakiku. Aku paham saat itu mereka sedang bermanjaan denganku, namun karena kondisi yang tak tepat dimana kala itu aku harus segera bersiap sekolah. Kutendang mereka, setiap ingin mengelus kakiku, kudorong mereka, sesekali kulempar mereka menjauh. Dan kuucapkan kata-kata kasar seperti "Dasar Kucing Kampung Aja Manjanya Kaya Kucing Mahal ! Manja !", kata itu tak sadar kuucapkan karena kondisiku yang sangat tidak stabil penuh emosi. Lalu, saat kandang telah bersih, kumasukan ketiga kucing itu dengan kasar kekandang. Ketika kututup, mereka (Lazippo dan Scareppo) mengeong-ngeong memberontak membuatku sedikit tak mengerti. Namun karena dikejar waktu, aku hanya bisa berteriak "BERISIK!" sambil masuk kerumah dan membanting pintu dengan kasar. Akupun berangkat kesekolah untuk menuntut ilmu.
Sepulang dari sekolah, aku sedikit berlari-lari kecil. Senyum lebar menghiasi kedua sudut bibirku. Kala itu hari sabtu dan besok minggu. Aku tak sabar untuk bermain dengan kucing-kucingku yang lucu. Namun saat aku menuju dapur, kudengar suara eongan seekor kucing. Suara itu sangat lantang dan terdengar tak biasa, Akupun segera berlari kebelakang dan kudapati Nyippo sedang mengeong didepan pintu. Dia benar-benar terlihat sangat tak biasa. Tak bisa diam, saat kugendong yang dimana biasanya dia paling tenangpun kudapati dia bergerak-gerak tak bisa diam. Saat kuamati, matanya berair dan basah. Aku sempat berpikir, ada apa sebenarnya dengan Nyippo ?, Apa dia menangis, tapi kalaupun ia, kenapa?. Saat kuturuni dia, dan ingin menuju kamar untuk menaruh tas dan mengganti baju, Nyippo kembali bertingkah, ia tak bisa diam, mengeong-ngeong seperti menjeritkan sesuatu yang tak bisa kupahami. Akhirnya aku hanya menaruh tas dan menghampiri nyippo, kucoba cari kedua kakaknya. Dan anehnya, tak dapat kutemukan. Kucari kehalaman belakang, kesekeliling rumah, tetap tak ada. Aku bingung, air mata sudah menetes dipipiku, saat itu rasa ketakutan melanda perasaanku. Yang paling kutakuti apabila papa membuang kucing itu. Aku mulai menangis disana dan kudapati nyippo masih bertingkah aneh tak biasa.
Setelah kudapati kedua kucing itu benar-benar hilang, air mataku makin deras. Apalagi saat kutahu papa sedang pergi membawa mobil, aku makin takut. Malam itu, tak sedikirpun aku berbicara. Air mata ditahan seberapakalipun tetap saja menetes. Mataku sembab, hidungku merah, wajahku pucat. Memang berlebihan, tapi tiada yang tahu seberapa sakit, sedih, dan kecewanya perasaanku saat itu. Jam menunjukan angka sebelas malam, dan masih kudapati nyippo sedang meraung-aung dalam kandang, tak berhenti sejak tadi. Akhirnya kuputuskan untuk keluar kamar dan menghampirinya. Kugendong ia, kuelus-elus lembut bulunya. Dia diam, tapi tetap memberonta. Lalu mengeong, diam lagi, memberonta lagi, berkali-kali dia bertingkah seperti itu. Dan parahnya, matanya yang bulat lebar terlihat sangat berair. Saat itu aku hanya berfikir kalau Nyippo sedang menangis, bagaimana tidak, yang kutahu nyippo sangat dekat dengan kedua kakaknya. Tapi baru saat itu kulihat seekor kucing menangis. Sungguh, aku benar-benar tak tega. Kuelus pelan bulunya, berusaha menenangkan. Kuucapkan kata-kata yang kurasakan saat itu, diantaranya adalah " Nyippo, aku benar-benar paham bagaimana perasaanmu, Tapi kumohon tenanglah, jika kau seperti ini membuatku semakin sedih nyippo. Tolong, aku paham bagaimana perasaanmu ", aku tahu ini gila. Tapi entah mengapa aku melakukan itu semua sambil menangis. Menyadari waktu menunjukan jam dua belas kurang, kuucapkan sekali lagi kata agar dia semangat, kukecup kepalanya sekali, lalu kuelus lehernya sebelum kumasukan kedalam kandang. Dan entah mengapa, dia berhenti bersikap aneh. Dia duduk, menatap mataku, bola mata polosnya masih terlihat berair, aku tersenyum singkat dan berjalan pergi. Setelah itu kurasa dia terlelap tanpa suara.
Esok paginya, ia mulai mengeong dengan suara yang semakin kencang. Aku terhenyak , meskipun secara langsung secara bahasa aku tak mengerti. Namun dari sikap dan suara aku dapat menyimpulkan dia berkata seperti ini : " Dimana Kakak ? Kakak A (Lazippo) , Kakak B (Scareppo) ", terus menerus seperti itu, Intinya, aku tahu ia sedang menyeru-nyerukan nama kakaknya atau memanggil kakak-kakaknya walaupun aku tak paham apa panggilan kakak bagi binatang kucing. Akupun datang dengan mata semakin sembab, kedatanganku membuat nyippo terdiam, menatap mataku lagi, dia mengeong sekali, lalu aku membulatkan mataku kemudian menggeleng pelan. Entah kenapa, dia kembali diam... dan tetap menatapku. Ketika aku buka pintu kandangnya, dia mengelus kakiku pelan. Saat itu tangisku mulai meledak, penyesalan mengikat seluruh ragaku. Aku menyesal mengapa kemarin aku harus bertingkah sangat kasar pada mereka saat bermanja seperti ini. Padahal mungkin bagi mereka yang selalu kuurus secara tidak langsung akan menganggapku sebagai 'ibu' atau 'lebih dari sekedar teman'. Air mataku mengucur saat itu, kutatap mata bulat nyippo yang basah seperti mataku, dan iapun menatap mataku. Mengamati air mata yang turun perlahan dipipiku, lalu menatapku lagi. Saat itu aku berjanji dalam hati akan menjaga nyippo dengan baik, aku akan menghajar siapapun yang berani melukainya. Aku tahu aku benar-benar gila, tapi serius. Aku tak bisa bicara benar-benar namun aku kali ini Serius Benar-Benar mengerti apa yang selalu Nyippo rasakan, saat lapar, bosan, ngantuk, sakit. Dan akupun berencana membelikan seekor kucing dengan uang tabunganku untuknya, untuk teman bermainnya. Nyippo, akan kurawat sebaik-baiknya kamu sebagai penyesalan sikapku akan kedua kakakmu yang sangat kusayangi itu.
Ketahuilah, kisah yang kutulis diatas benar-benar 100% nyata, dan bilapun kalian anggap aku berbohong atau apapun itu hak kalian... tapi aku berkata apa adanya saat ini...
Ini kisah yang benar-benar tak akan kulupa , antara aku, dan ketiga kucing kesayanganku.......
Dan kalau suatu saat nanti papa atau mama baca ini blog, kalian harus sadar dimana kesalahan kalian, gimana perasaanku saat kalian melakukan apa yang kalian anggap wajar......
Ketahuilah, ma... pa...
Sejak kecil aku benar-benar sayang pada binatang,
melukai binatang sama dengan membeset badanku ,
tinggal memilih..... EGO kalian, atau......
AKU........
======================================================== 100% NYATA =====
Ini beberapa lembar foto terakhir 3 kucing yang gue ceritain diatas , *menghapus air mata*
Jujur, sampe sekarang gue masih pengin banget cari Lazippo sama Scareppo...
Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak baik pada mereka, terlebih kalau mereka sampai.......
Ah udahlah, gue gamau nangis terus...
semoga cerita diatas bisa ngasih pelajaran kalau binatang juga punya perasaan, mereka dapat merasa gembira, bosan , marah, bahkan bisa menitikan air mata (secara ga langsung) ,
jangan anggap binatang debu ,
karena binatang juga butuh kehidupan dan hak untuk hidup, dan perasaan didunia layaknya manusia....
so , I'll show you they ::
:'(
Ini NYIPPO :
Ini ScarePPo :
Kalo Foto Lazippo, Mreka waktu bai , sama mereka waktu bobo bertiga belum ketemu, kayanya keselip difolder-folder, musti dicari dulu =,=
ntar kalo udah ketemu lagsung di edit di uplod kesini deh ,
btw thanks ya yang uda dengerin curhatan gue ;')
Sekali lagi gue bilang,
ini 100% nyata,
dan gue ga Gila...... Gue cuma... Ya... Gue cuma sedikit "mengerti" maksud omongan kucing-kucing itu...
Cuma itu kok , :)
Thanks ya All, buat waktunya...
semoga bisa diambil hikmahnya ,
sankyu en ciyu nextame ;'*
Jaa Mata ~


Tidak ada komentar:
Posting Komentar